Kuliah Saya :)
KBI & KBE
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kompresi Bimanual
Interna merupakan tindakan sesudah plasenta dikeluarkan masih terjadi
perdarahan karena atonia uteri, perdarahan karena anemia, perlu dilakukan
tindakan kompresi bimanual sambil mengambil tindakan-tindakan lain untuk
menghentikan perdarahan dan memperbaiki keadaan penderita.
Berdasarkan uraian
dari latar belakang di atas dan sesuai
dengan judul makalah, maka dalam hal ini rumusan masalah adalah “ Bagaimana
asuhan kebidanan pada ibu bersalin untuk menghentikan pendarahan yang dilakukan
dengan tindakan KBI”.
C. TUJUAN
Tujuan Umum
Sebagai acuan
untuk melaksanakan Asuhan Kebidanan
kepada Ibu bersalin dengan perdarahan sehingga dilakuan tindakan KBI ini.
Tujuan Khusus
Mampu melakukan
pengkajian pada Ibu bersalin dengan perdarahan
.
Mampu merumuskan
diagnosa kebidanan dalam asuhan kebidanan pada ibu bersalin yang mengalami
perdarahan
Mampu menyusun
perencanaan yang menyeluruh kepada ibu bersalin
Mampu menerapkan
rencana kebidanan pada ibu bersalin
dengan perdarahan setelah melahirkan
Mampu melakukan evaluasi dari tindakan dengan KBI
dalam asuhan kebidanan pada ibu bersalin yang mengalami perdarahan saat
melahirkan.
D. MANFAAT
Penulis
mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai pertimbangan
bagi calon tenaga kesehatan professional dalam memberikan pelayanan asuhan
kebidanan dalam upaya membantu mengatasi perdarahan saat persalinan dengan
menggunakan tindakan KBI.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Kompresi Bimanual
Interna adalah tangan kiri penolong dimasukan ke dalam vagina dan sambil
membuat kepalan diletakan pada forniks anterior vagina. Tangan kanan diletakan
pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan
dengan ibu jari di depan serta jari-jari lain di belakang uterus. Sekarang
korpus uteri terpegang antara 2 tangan antara lain, yaitu tangan kanan
melaksanakan massage pada uterus dan sekalian menekannya terhadap tangan kiri.
Kompresi bimanual
interna melelahkan penolong sehingga jika tidak lekas member hasil, perlu diganti
dengan perasat yang lain. Perasat Dickinson mudah diselenggarakan pada seorang
multipara dengan dinding perut yang sudah lembek. Tangan kanan diletakkan
melintang pada bagian-bagian uterus, dengan jari kelingking sedikit di atas
simfisis melingkari bagian tersebut sebanyak mungkin, dan mengangkatnya ke
atas. Tangan kiri memegang korpus uteri dan sambil melakukan massage menekannya
ke bawah ke arah tangan kanan dan ke belakang ke arah promotorium.
Kompresi bimanual
interna dilakukan saat terjadi perdarahan. Perdarahan postpartum adalah
perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk
perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan
dalam kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta
lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998).
Haemoragic Post
Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama
setelah lahirnya bayi (Williams, 1998)
HPP biasanya
kehilangan darah lebih dari 500 ml selama atau setelah kelahiran (Marylin E
Dongoes, 2001).
Perdarahan Post
partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
- Early Postpartum
: Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
- Late Postpartum
: Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir
Tiga hal yang
harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post
partum :
1. Menghentikan
perdarahan.
2. Mencegah
timbulnya syok.
3. Mengganti darah
yang hilang.Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh persalinan.
Berdasarkan penyebabnya :
1. Atoni uteri
(50-60%).
2. Retensio
plasenta (16-17%).
3. Sisa plasenta
(23-24%).
4. Laserasi jalan
lahir (4-5%).
5. Kelainan darah
(0,5-0,8%).
ETIOLOGI/PENYEBAB
Tindakan kompresi
bimanual interna ini akibat adanya perdarahan yang disebabkan karena Penyebab
umum perdarahan postpartum adalah:
1. Atonia Uteri
2. Sisa Plasenta
dan selaput ketuban
- Pelekatan yang
abnormal (plasaenta akreta dan perkreta)
- Tidak ada
kelainan perlekatan (plasenta seccenturia)
3.Inversio Uteri
Inversio uteri
adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke
dalam kavum uteri
C. PATOFISIOLOGI
Dalam persalinan
pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan sirkulasi ke sana,
atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun
sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempurna
sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi
yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan
karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada ibu; misalnya
afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin
untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan
postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock
hemoragik.
Perbedaan
perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir adalah:
Atonia uteri
(sebelum/sesudah plasenta lahir).
1. Kontraksi
uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi.
2. Perdarahan
terjadi beberapa menit setelah anak lahir.
3. Bila kontraksi
lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi yang lemah tersebut
menjadi kuat.
Robekan jalan
lahir (robekan jaringan lunak).
1. Kontraksi
uterus kuat, keras dan mengecil.
2. Perdarahan
terjadi langsung setelah anak lahir. Perdarahan ini terus-menerus.
Penanganannya,
ambil spekulum dan cari robekan.
3. Setelah
dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung uterus mengeras tapi
perdarahan tidak berkurang.Perdarahan Postpartum akibat Atonia Uteri
Perdarahan
postpartum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari rahim dan
sebagian lagi belum; karena perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia
uteri. Atoni uteri merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum.
Atonia uteri dapat
terjadi karena proses persalinan yang lama; pembesaran rahim yang berlebihan
pada waktu hamil seperti pada hamil kembar atau janin besar; persalinan yang
sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam. Atonia uteri juga dapat terjadi
bila ada usaha mengeluarkan plasenta dengan memijat dan mendorong rahim ke
bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim.
Perdarahan yang
banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila perdarahan sedikit
dalam waktu lama tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum
tampak pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan karena atonia uteri, rahim membesar
dan lembek.Terapi terbaik adalah pencegahan. Anemia pada kehamilan harus
diobati karena perdarahan yang normal pun dapat membahayakan seorang ibu yang
telah mengalami anemia. Bila sebelumnya pernah mengalami perdarahan postpartum,
persalinan berikutnya harus di rumah sakit. Pada persalinan yang lama
diupayakan agar jangan sampai terlalu lelah. Rahim jangan dipijat dan didorong
ke bawah sebelum plasenta lepas dari dinding rahim.
Pada perdarahan
yang timbul setelah janin lahir dilakukan upaya penghentian perdarahan secepat
mungkin dan mengangatasi akibat perdarahan. Pada perdarahan yang disebabkan
atonia uteri dilakukan massage rahim dan suntikan ergometrin ke dalam pembuluh
balik. Bila tidak memberi hasil yang diharapkan dalam waktu singkat, dilakukan
kompresi bimanual pada rahim, bila perlu dilakukan tamponade utero vaginal,
yaitu dimasukkan tampon kasa kedalam rahim sampai rongga rahim terisi penuh.
Pada perdarahan postpartum ada kemungkinann dilakukan pengikatan pembuluh nadi
yang mensuplai darah ke rahim atau pengangkatan rahim.
Plasenta sudah
terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri atau adanya
lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan penanganan kala
III) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata).
Bila plasenta
belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian
plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi untuk
segera mengeluarkannya.Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih
atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.
Sehingga untuk
mengatasi perdarahan tersebut diatas harus dilakukan Kompresi Bimanual Interna.
D. MANIFESTASI
KLINIK/TANDA DAN GEJALA
Gejala Klinis umum
yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml),
nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih, dan
dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual.
Gejala Klinis
berdasarkan penyebab:
a. Atonia Uteri:
Gejala yang selalu
ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan segera setelah anak
lahir (perarahan postpartum primer)
Gejala yang
kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil,
ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)
b. Tertinggalnya
plasenta (sisa plasenta)
Gejala yang selalu
ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah ) tidak lengkap
dan perdarahan segera
Gejala yang
kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
c. Inversio uterus
Gejala yang selalu
ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat (jika
plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat.
Gejala yang
kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat
E. TINDAKAN KBI
Kompresi bimanual
internal :
Pakai sarung
tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan lembut memasukan tangan
(dengan cara menyatukan kelima ujung jari) ke introitus dan ke dalam vagina
ibu.
Periksa vagina dan
serviks untuk mengetahui ada tidaknya selaput ketuban atau bekuan darah pada
kavum uteri yang memungkinkan uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh.
Letakkan kepalan
tangan pada forniks anterior, menekan dinding anterior uterus, sementara
telapak tangan lain pada abdomen, menekan dengan kuat dinding belakang uterus
ke arah kepalan tangan dalam.
Tekan uterus
dengan kedua tangan secara kuat. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan tekanan
langsung pada pembuluh darah di dalam dinding uterus dan juga merangsang
miometrium untuk berkontraksi.
Evaluasi hasil
kompresi bimanual internal:
Jika uterus
berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBI selama 2 menit,
kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina, pantau kondisi ibu
secara melekat selama kala IV
Jika uterus
berkontraksi tetapi perdarahan terus berlangsung, periksa perineum, vagina dan
serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut, segera lakukan penjahitan
bila ditemukan laserasi.
kontraksi uterus
tidak terjadi dalam 5 menit, ajarkan pada keluarga untuk melakukan kompresi
bimanual eksternal, kemudian teruskan dengan langkah-langkah penatalaksanaan
atonia uteri selanjutnya. Minta keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tindakan Kompresi
Bimanual Interna ini dapat di lakukan jika terjadi perdarahan, yang disebabkan
karena adanya atonia uteri, sisa plasenta yang tertinggal dan inversio uteri.
Tindakan Kompresi
Bimanual Interna ini adalah dimana tangan kiri penolong dimasukan ke dalam
vagina dan sambil membuat kepalan diletakan pada forniks anterior vagina.
Tangan kanan diletakan pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan
telapak tangan dan dengan ibu jari di depan serta jari-jari lain di belakang
uterus.
Oleh karena itu,
Kompresi ini harus dilakuakn dengan segera agar perdarahan pada ibu bersalin
dapat terhentikan dengan secepat mungkin.
Sumber : koleksi
Mediague.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar